Merawat Warisan Leluhur, Menguatkan Harmoni Bangsa: Desa Tumpang Gelar Peringatan Bulan Sura 1448 H dengan Spirit Budaya dan Kebersamaan
MALANG || GemparNews – Di tengah derasnya arus modernisasi, menjaga tradisi merupakan ikhtiar penting untuk mempertahankan jati diri bangsa. Berangkat dari semangat tersebut, Pemerintah Desa Tumpang kembali menyelenggarakan Peringatan Bulan Sura BE 1960/Muharam 1448 Hijriah Tahun 2026, sebuah agenda budaya yang tidak hanya menjadi simbol pelestarian warisan leluhur, tetapi juga momentum memperkuat persatuan, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat.
Bulan Sura bagi masyarakat Jawa memiliki makna yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar pergantian penanggalan, melainkan waktu yang dimaknai sebagai momentum introspeksi, penyucian diri, serta memanjatkan doa demi keselamatan dan keberkahan bersama. Nilai-nilai luhur tersebut menjadi landasan Pemerintah Desa Tumpang dalam menghadirkan rangkaian kegiatan yang sarat akan makna budaya dan religius.
Kepala Desa Tumpang, Widiarto, S.E., menyampaikan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan desa. Menurutnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari keberhasilannya menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Melalui Peringatan Bulan Sura ini kami ingin mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat warisan leluhur, memperkuat persaudaraan, dan membangun Desa Tumpang yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Doa Bersama yang akan dilaksanakan pada Kamis, 9 Juli 2026 pukul 19.00 WIB di Gedung Rakyat Tumpang. Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Tumpang senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, serta keberkahan dalam setiap langkah pembangunan.
Puncak acara akan berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026 pukul 19.00 WIB melalui Pagelaran Wayang Kulit Gagrak Malangan dengan lakon “Kunjarakarna Ruwat”, yang akan dibawakan oleh Ki Soleh Adi Pramono, seorang dalang ruwatan yang dikenal memiliki dedikasi tinggi dalam melestarikan seni pedalangan sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral melalui setiap pementasannya.
Pemilihan lakon Kunjarakarna Ruwat mencerminkan harapan akan penyucian diri, kemenangan nilai-nilai kebajikan, serta semangat memperbaiki kehidupan menuju masa depan yang lebih baik. Filosofi tersebut sejalan dengan makna Bulan Sura yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Jawa.
Lebih dari sekadar tontonan, pagelaran wayang kulit merupakan tuntunan yang menyampaikan nilai-nilai etika, kebijaksanaan, kepemimpinan, serta pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Sebagai salah satu desa yang terus mengembangkan identitasnya sebagai Desa Budaya, Tumpang berkomitmen menjadikan tradisi sebagai kekuatan sosial yang mampu mempererat persaudaraan, memperkokoh karakter masyarakat, sekaligus mendukung pengembangan potensi budaya dan pariwisata di Kabupaten Malang.
Melalui kolaborasi pemerintah desa, tokoh budaya, tokoh agama, serta seluruh elemen masyarakat, Peringatan Bulan Sura 1448 Hijriah diharapkan menjadi ruang bersama untuk merawat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para leluhur sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam membangun desa.
Peringatan Bulan Sura Desa Tumpang 2026 menjadi bukti bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan akar budaya. Sebaliknya, tradisi yang terus dijaga akan menjadi pondasi kokoh dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis, berkarakter, dan berdaya saing di tengah perubahan zaman. (Rudy).
