UNCATEGORIZED

Dugaan Brutalitas Oknum Polisi di Gresik Meledak, Pimpinan Media Siapkan Perlawanan Hukum Tanpa Kompromi

GRESIK || Gempar.news – Dugaan aksi penganiayaan yang menyeret nama seorang oknum anggota kepolisian berinisial TW, yang menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Menganti, kini berubah menjadi bara konflik yang terus membesar dan tak kunjung padam. Peristiwa ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan pemantik kemarahan luas dari kalangan media hingga organisasi masyarakat yang menilai ada indikasi penyalahgunaan kekuasaan yang serius.

Edi Macan, pimpinan redaksi Radar CNN yang juga menjabat sebagai pimpinan Passer Wong Bodho Jawa Timur yang baru saja dikukuhkan, secara terbuka meluapkan kemarahan dan kekecewaannya atas dugaan kekerasan yang menimpa BU, anggota redaksinya di biro Gresik sekaligus bagian dari organisasi yang ia pimpin. Ia menilai insiden ini sebagai serangan langsung terhadap marwah pers dan tidak bisa dianggap remeh.

Dengan nada tegas dan tanpa ruang kompromi, Edi memastikan akan menyeret perkara ini ke jalur hukum dengan melaporkannya ke Polda Jawa Timur. Baginya, tindakan yang diduga dilakukan oleh aparat penegak hukum tersebut merupakan bentuk pelanggaran serius yang mencoreng institusi. Ia bahkan menyebutnya sebagai “pelanggaran berat” yang tidak layak ditoleransi dalam tubuh kepolisian.

“Sudah jelas ini bukan perilaku yang pantas. Seorang polisi justru berada di lokasi yang patut diduga sebagai sarang pelanggaran hukum. Itu saja sudah menunjukkan ada yang tidak beres,” tegasnya dalam pernyataan keras pada Selasa (5-5-2026).

Lebih jauh, Edi mengungkap bahwa lokasi kejadian berada di kawasan Jurang Kuping, Kecamatan Pakal, Surabaya, yang dulunya dikenal sebagai bumi perkemahan, namun kini diduga berubah menjadi titik gelap aktivitas minuman keras dan hiburan dengan wanita wanita penghibur, yang sarat pelanggaran. Perubahan fungsi ini dinilai sebagai bentuk pembiaran yang mencurigakan.

Ia menyoroti keras sikap oknum aparat yang seharusnya bertindak sebagai penertib hukum, namun justru diduga larut dalam aktivitas yang semestinya ia berantas. Lebih parah lagi, muncul dugaan tindakan kekerasan berupa penjambakan terhadap seorang wartawan hingga terjatuh, yang dinilai sebagai bentuk intimidasi brutal terhadap insan pers.

“Kalau aparat saja ikut tenggelam dalam pelanggaran, lalu siapa yang bisa dipercaya? Ini bukan sekadar mencoreng, ini merusak wajah institusi. Wartawan itu menjalankan fungsi kontrol sosial, bukan untuk diperlakukan seperti musuh,” ucapnya dengan nada geram.

Edi pun mendesak Kapolda Jawa Timur dan Kapolres Gresik agar tidak bermain aman atau sekadar formalitas, melainkan benar-benar mengambil tindakan tegas dan transparan terhadap oknum tersebut. Ia menegaskan bahwa publik kini menunggu bukti nyata, bukan sekadar janji.

Di sisi lain, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, TW memberikan klarifikasi yang justru semakin menimbulkan tanda tanya. Ia mengakui kehadirannya di lokasi dan tidak menyangkal bahwa dirinya mengonsumsi minuman keras, sebuah pengakuan yang dinilai memperkuat dugaan pelanggaran etik.

“Saya datang karena undangan teman, hanya minum saja di sana,” ujarnya singkat, tanpa menunjukkan penyesalan yang berarti.

Namun, terkait isu dirinya datang bersama perempuan, TW berusaha mengelak. Meski begitu, ia tidak mampu menampik bahwa ada perempuan yang menemaninya, dengan alasan bahwa pemandu lagu tersebut disediakan oleh pihak tempat hiburan, sebuah pernyataan yang justru semakin membuka dugaan keterlibatannya dalam aktivitas tersebut.

TW juga mencoba meredam situasi dengan menyebut bahwa konflik dengan BU hanyalah kesalahpahaman yang dipicu oleh kondisi mabuk. Namun pernyataan ini dinilai banyak pihak sebagai upaya mereduksi persoalan serius menjadi sekadar insiden sepele.

“BU juga dalam kondisi mabuk, dan ceritanya dilebih-lebihkan,” dalihnya, yang justru memicu reaksi skeptis dari publik.

Sementara itu, Kapolsek Menganti AKP Arif Rahman memberikan respons yang terkesan normatif. Saat dikonfirmasi, ia menyatakan akan menempuh jalur mediasi antara kedua pihak. Ia mengaku sedang berada di luar kota, tepatnya di Bojonegoro, dan akan segera menangani persoalan tersebut.

“Hari Kamis setelah dhuhur akan kita mediasi antara BU dan TW,” ujarnya singkat, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai langkah disipliner atau investigasi internal.

Langkah mediasi ini pun menuai kritik, karena dinilai terlalu lunak untuk kasus yang sarat dugaan kekerasan dan pelanggaran etik aparat. Publik kini menanti, apakah kasus ini akan benar-benar diusut tuntas atau justru berakhir sebagai episode lain dari cerita klasik: tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *