Kolam Renang Jati Sewu Menelan Korban Jiwa, Sorotan Publik Mengarah pada Sistem Keselamatan dan Dugaan Keterlibatan Pemilik Berkekuatan Politik
GRESIK || Gempar.news — Suasana libur akhir pekan yang semula dipenuhi tawa keluarga mendadak berubah menjadi kepanikan dan duka mendalam di sebuah lokasi wisata kolam renang di Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Minggu (17/5/2026).
Seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun dilaporkan meninggal dunia usai tenggelam di area kolam renang yang saat itu dipadati pengunjung. Peristiwa tragis tersebut sontak memicu kemarahan dan tanda tanya besar dari masyarakat terkait standar keamanan tempat wisata yang diduga kurang memadai.
Menurut informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber di lapangan, korban datang bersama keluarganya untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan. Namun di tengah ramainya aktivitas pengunjung, pengawasan terhadap anak-anak diduga lemah hingga korban diketahui tenggelam sekitar pukul 13.00 WIB. Kepanikan langsung pecah setelah pengunjung melihat tubuh korban berada di dalam kolam dalam kondisi tidak sadarkan diri. Insiden tersebut menimbulkan dugaan bahwa sistem pengawasan dan mitigasi keselamatan di lokasi wisata tidak berjalan optimal.
Beberapa saksi menyebut suasana di lokasi saat kejadian berlangsung kacau. Pengunjung berteriak meminta pertolongan, sementara upaya penyelamatan dilakukan secara spontan oleh warga dan sejumlah petugas di lokasi. Kondisi korban saat dievakuasi disebut sudah kritis. Minimnya respons cepat dan belum jelasnya keberadaan petugas pengawas kolam atau lifeguard saat kejadian turut menjadi sorotan keras dari masyarakat.
“Korban langsung dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit karena kondisinya sudah sangat kritis,” ujar salah satu saksi mata yang berada di lokasi.
Korban kemudian dibawa menuju RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Kendung, Surabaya. Namun nasib tragis tak dapat dihindari. Bocah malang tersebut dikabarkan meninggal dunia dalam perjalanan sebelum sempat memperoleh penanganan medis secara intensif. Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban sekaligus memunculkan pertanyaan serius mengenai kelayakan operasional tempat wisata yang ramai dikunjungi anak-anak.
Hingga kini identitas lengkap korban memang belum dipublikasikan secara resmi. Namun dari informasi yang berkembang, korban diketahui merupakan warga Surabaya yang datang bersama keluarganya untuk berlibur. Duka mendalam keluarga korban kini beriringan dengan desakan publik agar pihak pengelola tidak lepas tangan atas insiden yang merenggut nyawa seorang anak di area wisata yang seharusnya menjadi tempat rekreasi aman.
Insiden maut tersebut langsung menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai tragedi ini tidak bisa dianggap sekadar musibah biasa, melainkan harus menjadi pintu masuk untuk mengusut serius dugaan kelalaian pengelola dalam menjamin keselamatan pengunjung. Pertanyaan mengenai standar keamanan, jumlah petugas pengawas, kesiapan alat keselamatan, hingga prosedur penanganan darurat kini mengemuka dan menuntut jawaban terbuka dari pihak pengelola.
Sorotan publik semakin menguat setelah muncul informasi bahwa lokasi wisata kolam renang tersebut diduga dimiliki oleh seorang anggota DPRD Kabupaten Gresik. Kabar tersebut memicu spekulasi dan perhatian luas masyarakat, terlebih setelah beredar informasi bahwa pihak yang diduga terkait telah memberikan santunan sebesar Rp20 juta kepada keluarga korban pasca kejadian. Meski santunan itu disebut sebagai bentuk kepedulian, sejumlah pihak menilai langkah tersebut tidak otomatis menghapus kewajiban moral maupun tanggung jawab hukum apabila nantinya ditemukan adanya unsur kelalaian dalam pengelolaan tempat wisata.
Di tengah derasnya sorotan publik, hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi dari anggota DPRD Kabupaten Gresik yang diduga sebagai pemilik lokasi wisata tersebut. Tidak adanya klarifikasi terbuka terkait kronologi kejadian, sistem keselamatan di lokasi, maupun bentuk pertanggungjawaban pengelola justru memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat. Publik kini menanti transparansi dan sikap terbuka dari pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan lokasi wisata tersebut.
Sementara itu, Kapolsek Menganti AKP Arif Rahman saat dikonfirmasi terkait peristiwa tragis tersebut juga belum memberikan jawaban maupun keterangan resmi kepada awak media. Kondisi itu membuat masyarakat mempertanyakan sejauh mana proses penanganan dan penyelidikan dilakukan aparat terhadap insiden yang telah merenggut nyawa seorang anak di lokasi wisata umum.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa keselamatan pengunjung, terutama anak-anak, seharusnya menjadi prioritas utama dalam pengelolaan tempat wisata. Publik berharap aparat penegak hukum dan instansi terkait tidak berhenti pada narasi belasungkawa semata, melainkan benar-benar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan operasional tempat wisata tersebut demi mencegah jatuhnya korban berikutnya.(Red)
